CINTA.. PERNIKAHAN... DARI MERTUA UNTUK MENANTU


abda' kalami bikalimatin toyyibatin..

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركته

mata semakin layu.. namun kornea mata seakan-akan cuba untuk mengeras membuatkan saya sukar untuk melelapkan mata.. rindu "teratak kasih" yang tidak seberapa, tempat saya meluah rasa yang terpendam... dalam... nun jauh di sudut sana. tiada siapa yang sudi mendengar, melainkan hanya DIA, yang senantiasa bersama, tika susah mahupun senang. Allah.. tapi saya..?? [tepuk dada tanya Iman mu].

asalnya, berniat untuk menulis entri tentang "Ibu", tapi saya tundakan dahulu untuk sementara waktu. Namun percayalah, entri ini ada kaitannya juga dengan seorang insan yang bergelar "IBU" dan seorang wanita yang juga bakal bergelar "ibu" kepada anak-anak suami yang di pilih oleh DIA untuknya. Hati tertarik pada satu nota daripada seorang sahabat yang di "post"kan di wall facebook nya. Entah.. saya hanya mampu tersenyum usai membacanya. sedikit perkongsian dari saya untuk kalian yang sudi bertandang. moga kita sentiasa dalam naungan kasih sayang yang Maha Mencintai.. ya.. yang penuh dengan cinta..



MUKADDIMAH DARI SAYA...

Ketika Allah mencinta hamba-Nya, segala urusan pasti akan selesai. Buktinya sifat pemurah Allah itu sentiasa ada untuk hamba-hambaNya, bisa kita lihat pada seorang ibu yang melahirkan seorang anak. Kesakitan sewaktu melahirkan, Sembilan bulan sepuluh hari.. satu tempoh yang agak panjang menurut pengiraan peribadi saya. Kepenatan mengandungkan, melahirkan, dan menjaga dengan penuh kasih sayang yang belum tentu si anak akan membalasnya dewasa kelak.. wal’iyadzubillah. Moga terlindung dari golongan sedemikian.

Cinta.. banyak waktu.. dimana manusia sering berbeza pandangan dalam mengertikannya. Bukan menurut saya, pandangan kalian salah dan pandangan saya benar.. jauh sekali mengatakan bahwa penafsiran cinta menurut saya jauh lebih sempurna daripada orang yang lebih awal merasakan masinnya “garam” dalam kehidupan lantaran dengan rasa “cinta”.

Cinta… ibaratnya kaki-kaki yang melangkah dalam membangunkan samudera kebaikan. Cinta itu juga.. sepertinya tangan-tangan yang merajut hamparan permaidani merah nan indah bersulamkan benang kasih sayang. Cinta itu.. adalah HATI yang sentiasa berharap dan mewujudkan dunia yang penuh dengan kehidupan yang lebih baik. namun.. jangan terlalu cintakan dunia hinggakan membuatkan kita dijangkiti penyakit takut mati. Wal’iyadzubillah. Seperti kata sahabat saya dalam lagunya.. “cintakan dunia membawakan manusia kepada hidup nafsi-nafsi” – mesej yang sarat dengan erti yang sukar ditafsirkan.

Bagaimana Islam sendiri memberikan contoh konkrit dalam kehidupan lewat kehidupan insane mulia, Rasulullah SAW. Teringat kisah cinta yang dicontohkan lewat kehidupan kekasih Agung ini. Pagi itu, langit mulai menguning, burung-burung juga enggan keluar dari “rumah” masing-masing untuk mengepakkan sayap. Rasulullah dengan suara terbata penuh indah : “wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta-Nya, maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua hal pada kalian, al-Quran dan as-Sunnah. Barangsiapa mencinta sunnahku, bererti dia mencinta ku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-samaku masuk syurga..”

Khutbah singkat itu di akhiri dengan pandangan redup mata Rasulullah.. menatap para sahabat satu persatu, Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca.. ‘Umar, yang dulu di zaman jahiliyyah terkenal dengan sifat bengisnya, naik turun dadanya menahan nafas dan tangisnya. Uthman menghela nafas panjang… dan ‘Ali, hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kecintaan mereka pada Allah dan Rasul-Nya, entah mampu ditandingi atau tidak.. apa lagi untuk mencontohinya. Ibarat menampar pipi diri sendiri.. sedarlah dari lamunan, wahai muslimah.. Allah, lemahnya aku..



CINTA SESAMA MUSLIM.. MOGA AKHIRNYA DENGAN PERNIKAHAN YANG PENUH BARAKAH

Pernikahan : mungkin saya bukanlah orang yang 'arif untuk membicarakan tentangnya. Membina “masjid” pun belum lagi, hendak berbicara soal pernikahan pula. InsyaAllah usaha ke arah itu. Kata sahabat saya : “insyaAllah, niat yang baik itu akan dipermudahkan oleh Allah”, tersenyum saya bila mendengarnya. Ya.. saya juga berdoa, moga DIA yang sentiasa mendengar doa’ hamba-hambaNya memakbulkannya.

Berbicara soal pernikahan.. bagi saya mungkin tidak pernah ada basinya. Romantika di dalamnya amat mengasyikkan. Hanya orang-orang yang berjalan tidak bersesuaian dengan fitrahnya sahaja akan bosan membicarakan dan membincangkan masalah pernikahan. Mungkin bagi sesetengah pihak tertimbul persoalan di benak hatinya, mengapa pernikahan menjadi suatu elemen yang sangat penting? Dan mengapa ia menjadi sebahagian daripada kehidupan seorang muslim? bahkan Rasulullah saw telah pun menjawab persoalan ini dalam sabdanya, mafhum :

Barangsiapa yang dikurniai seorang isteri (atau suami) yang solehah, bererti dia telah menyempurnakan setengah dari ad-Deennya. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah setengah lainnya”. (Hadith riwayat ath-Thabrani,al-hakim dan al-Baihaqi dari Anas bin Malik)



DI ANTARA KEUTAMAAN DALAM PERNIKAHAN…

Adalah untuk mencambahkan benih dan menumbuhkan buah cinta sejati. Firman Allah SWT, mafhumnya di dalam al-Furqan : “hati manusia dihiasi rasa cinta kepada sesuatu yang menarik iaitu perempuan, anak cucu, emas dan perak yang melimpah, kuda-kuda yang bagus, binatang-binatang ternakan, dan sawah lading. Yang demikian itu adalah kesenangan hidup yang di dunia, tetapi di sisi Allah lah tempat kembali yang paling baik” [ suarh al-Imran : 14 ].

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata : “seorang lelaki datang kepada Nabi SAW, lalu berkata : “kami mempunyai seorang anak perempuan yatim, dia telah dipinang oleh ( dua orang lelaki ), yang miskin dan yang kaya . tetapi dia senang kepada yang miskin, sedang kami senang kepada yang kaya. Lalu Nabi bersabda : “tidak pernah diketahui dua yang bercinta setulus cinta dalam pernikahan” [ HR Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi ].

Dari ayat tersebut jelas bahawa Allah menciptakan manusia dengan naluri kecintaan dan kesukaan kepada perempuan, anak cucu, dan harta kekayaan. Naluri anugerah Ilahi agar mansuia dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan hidup di dunia tanpa melupakan kehidupan di hari muka kelak.

Teringat saya pada kisah Rasulullah saat puteri kecintaannya bakal menikah dengan ‘Ali : Di hari pernikahan Fatimah dan Ali, Nabi menyediakan ’persiapan’ untuk puteri kesayangannya itu. Para sahabat yang hadir terduga-duga apakah gerangan bekalan yang disediakan untuk persiapan walimah puteri Khadijah ini. Rupa-rupanya, sedarlah mereka persiapan itu Cuma penggiling gandum, kulit binatang yang disamak, kendi dan sebuah piring.

Abu Bakar menitiskan air mata. ”ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?” nabi tenang menjawab ”wahai Abu Bakar, ini sudah cukup bagi mereka yang berada di dunia.” Di hari pernikahan Fatimah, dia keluar dengan pakaian ’terbaik’nya, dengan 12 tampalan, tanpa sebarang perhiasan.

Begitulah Rasulullah meletakkan pernikahan ke satu tahap yang sangat tinggi. Penanda aras yang diletakkan itu kadang-kadang menyebabkan diri sendiri takut untuk mengukur apa yang telah sedia ada. Layaklah Allah membandingkannya dengan ungkapan Mitsaqan Ghaliza, yang dengan sendirinya menterjemah misi agung disebalik lafaz pendek penyempurnaan akad.

“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami isteri. Dan mereka (isteri-isteri mu) telah mengambil perjanjian yg kuat (ikatan pernikahan) dari kamu ” [ 4:21 ]

Allah SWT memberi petunjuk bagi seluruh manusia untuk melestarikan dan melunaskan rasa cinta itu melalui satu jalan yang halal iaitu dengan PERNIKAHAN. Dengan menikah, adam dan hawa bersatu dalam satu ikatan yang sah . Cinta sebelum terucapnya “lafaz sakinah” itu.. akan melahirkan bibit-bibit cinta yang akan tumbuh segar dengan baik dan murni hanya dengan pernikahan.

Ma’rifatun Nabi adalah salah satu di antara cabang kema’rifatan, selain ma’rifatullah dan ma’rifatud ad-Deen. Menurut Syeikh Muhammad Shalih ‘Uthaimin dalam kitabnya “Syarah Thalathul Ushul”, menyatakan ma’rifatun Nabi meliputi lima hal dan salah satu daripada kelima itu adalah mengenai sunnah-sunnah baginda SAW. Terangkum juga dalam as-Sunnah tersebut hadith-hadith yang pada intinya mengandungi pelajaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh seorang hamba untuk mencintai dan di cintai Allah SWT Rasul-Nya. Jalan terbaik untuk menggapainya adalah melalui ibadah yang bersifat madhah dan juga ghairu madhah.

Adapun ibadah ghairu madhah itu adalah seperti belajar, bekerja, dan salah satu antaranya juga ialah pernikahan. “nikah itu adalah sunnahku, barangsiapa yang mencintai agamaku, maka hendaklah dia mengikuti sunnahku” begitulah maksud dari salah satu hadith Nabi SAW berkaitan soal pernikahan. Pernikahan adalah sebuah episode yang akan menguji tingkat kecintaan seseorang terhadap agama yang bererti mencinta Allah beserta melaksanakan syari’at yang telah ditetapkan. Oleh itu, bagi setiap pasangan yang sudah siap untuk menikah harusnya mengetahui keutamaan-keutamaan syari’at sebelum dan selepas pernikahan tersebut, agar bisa saja pasangan tersebut menggapai apa yang dinamakan sebagai cinta yang hakiki.

Rasanya.. cukup dahulu setakat ini.. bicara soal cinta dan pernikahan…



ISI UTAMA ENTRI KALI INI…. =)

Saat kakak tercinta selamat di ijabkabulkan, kelihatan wajah walid dan umi yang penuh redup dan sayu. Sedih barangkali. Apa agaknya perasaan keduanya.. bila anak yang dikandung, dilahirkan, di jaga dengan penuh kasih sayang selama berbelas-belas tahun, akhirnya sampai satu masa, hak “penjagaan” tersebut beralih arah pada seseorang yang baru muncul dalam hidup anak-anak mereka. Mata walid merah…. menangis. Membuatkan saya turut sayu melihat suasana ketika itu. Sukar di ungkapkan perasaan walid. Umi tampaknya tenang.. namun dalam hati, cukup hanya DIA yang tahu.

Mungkin.. kisah disebalik lagu nasyid “lafaz sakinah” [ kumpulah far east ] cukup untuk mengungkapkan perasaan seorang ayah saat putri kandungnya menikah dengan seorang lelaki yang sebelum ini “asing” dalam hidupnya.

Ibu pula..??? apa perasaannya.. saat anak lelaki yang sentiasa diharapkan agar bisa saja menjaganya di hari “senja” kelak..?? =) saya titipkan luahan hati seorang ibu di bawah ini.. sebagai pedoman untuk bakal-bakal yang bergelar “zaujah” atau “isteri” kepada “suami” yang telah dipilih Allah untuknya. Selamat membaca…



DARI METUA.. UNTUK MENANTU PEREMPUANKU..

Duhai gadis yang baru ku kenal..

Tahukah kau, dia putraku..

Lahir dari dalam rahim suciku..

Ku pertaruhkan hidupku untuk memilikinya..

Anak kesayanganku yang sepanjang hidupnya ku besarkan dengan segenap rasa cintaku..

Tangan renta ini yang mengangkat tubuh mungilnya, menyuapinya, menyeka air matanya dan memeluknya dalam dakapanku..

Duhai gadis..

Tahukah kau betapa besar rasa cintaku padanya?

Bahkan aku tak mampu membayangkan bila ada yang merebutnya dari dakapku..

Tahukah kau gadis?

Betapa bangga ku rasakan ketika dia mulai beranjak dewasa?

Menatap tumbuh menjadi lelaki tegap dan tampan..

Seulas senyumnya mengingatkanku pada senyuman ayahnya yang sangat ku cinta..

Betapa hati ini terus diliputi rasa bangga dan buncahan cinta padanya..

Kebanggaanku.. Putraku..

Berbagai prestasi dia ukir dan memahatnya..

Bangga tak terperi dalam lubang rasaku..

Dan ku selalu merasa puas menyebutnya putraku..

Tak sedikitpun dia pernah mengecewakanku..

Tak pernah..

Gadis, tahukah kau..

Betapa haru hatiku, ketika ku melihat perubahannya..

Mencuba mengenal Deennya lebih dalam dari yang kami ajarkan padanya..

Dia menjadi muslim sejati..

Lelaki yang dirindukan JANNAH..

Aku semakin sayang padanya..

Putraku kini yang malah mengajarkanku banyak hal..

Mendekatkanku pada-Nya..

Pada Rabb ku yang selama ini ku kenal dengan sederhana kerana kebodohanku..

Tapi aku tak malu..namun sebaliknya..

Aku semakin bangga padanya..

Putraku.. Cahayaku..

Namun..

Rasa itu berubah menjadi takut, cemas dan khawatir..

Ketika dia menyampaikan padaku keinginannya..

Dia ingin menyempurnakan agamanya..

Yah.. Dia ingin membangun rumah tangganya sendiri..

Dan, dia telah memilih..... kaulah gadis beruntung itu..

Gadis, tahukah kau?

Betapa cemburuku padamu?

Yah, aku sangat takut kehilangan putra kesayanganku..

Takut kau merebut semua perhatiannya dariku..

Takut keberadaanmu, memalingkannya dariku..

Kau akan merebutnya dan aku cemburu..

Namun, kembali ku sedari..

Putraku tak akan memilih wanita sembarang..

Ku yakin kau punya kelebihan yang membuatnya memilihmu..

Dan ku mulai menata hatiku..

Duhai gadis pilihan putraku..

Ku harap kau memiliki tangan yang lebih lembut dariku..

Kerana ku tak mahu kau melukai putraku..

Ku harap kau mempunyai senyuman yang lebih sejuk dariku..

Kerana kelak, dia akan datang padamu dalam tiap galaunya untuk mencari ketenangan..

Ku harap kau memiliki pelukan yang lebih hangat dariku..

Kerana ku ingin hatinya selalu damai dalam dakapanmu..

Ku harap kau mempunyai tutur kata yang seindah embun..

Kerana ku tak ingin dia mendengar kata-kata kasar dalam hidupnya..

Duhai gadis pilihan putraku..

Jadilah anakku..

Agar tak pernah ku merasa kehilangan putraku kerana kehadiranmu...

Jadilah sahabatku..

Agar kau dapat mencurahkan rasamu padaku kelak..

Jadilah rakanku..

Agar bersama-sama kita mencintai lelaki yang sama-sama kita cintai..

Untukmu gadis pilihan putraku..

Selamat datang di istana kami..

Penuhilah dengan cinta dan kasih..

Semoga kau bahagia menjadi sebahagian dari kami..

Padamu gadis pilihan putraku..

insyaAllah… Aku pun akan mencintaimu..




sekian…


alfaQirah ila Allah :

~waznah alhamraa’~

03:30 am

10 MEI 2011

Post a Comment