KEMBARAKU.. MENGINGATKAN KEPADA TARBIYAHMU

Ya Rasulullah..

Bismillahirrahmanirrahim.. Alhamdulillah wa syukurillah...

Limpahan puji kehadrat Ilahi, Maha luhur, Maha menguasai kehidupan, Maha menguasai ruh dan menempatkannya di dalam jasad, Maha memilihkan tempat bagi ruh, untuk muncul di dalam jasad hambanya, sehingga ruh itu mempunyai alat untuk berbicara, sehingga ruh mempunyai alat untuk melihat, mendengar dan berbuat dengan pancainderanya, sehingga ruh diberi manqudzah dan darjat yang mulia oleh Allah untuk termuliakan, semakin dekat kehadiratullah jalla wa’ala, sehingga dijadikanlah tubuhnya ini alat untuk mencapai keredhaan Ilahi.. selawat dan salam buat imamul muttaqin, panglima para mujahidin, junjungan kita Muhammad s.a.w, seorang Nabi yang amanah serta buat kaum keluarganya, para sahabatnya dan mereka yang mengikut pimpinan mereka hingga ke hari kiamat.

Ketika selesai izin Robbul’alamin bagi seorang hamba untuk hidup di atas bumi-Nya, selesai izin baginya untuk makam dan minum dari rezki di atas bumi-Nya, selesai izin dari Allah bagi hamba-Nya untuk menggunakan panca inderanya dalam hidupnya, maka Allah memisahkan ruh dengan jasadnya. Jasad dikembalikan kepada asalnya diperut bumi dan berpadu dengan tanah dan ruh mendapatkan pembawa kemuliaan yang dibawanya di masa hidupnya ataupun membawa kehinaan yang ia lakukan dimasa hidupnya. Kembali ruh berpisah dengan jasad sebagaimana sebelum ia masuk ke alam dunia, iapun kembali berpisah dan selesai di alamulbarzakh didalam pertanggungan jawab atas setiap detik masa hidupnya dimuka bumi.

Alhamdulillah.. usai majlis tauzi’ as-Syahadah ( kuliah al-Lugha ‘Arabiyah – Jami’ah Qaherah ) setelah hampir sebulan kembara “hati” menuntut ‘ilmu di bumi barakah, ardul kinanah, ummu ad-Dunya.. subhanallah, permusafiran HATI yang sangat-sangat berharga. Bukan tidak pernah di lamar bumi Mesir ini, namun percaturan Allah siapa yang tahu... semuanya di dalam Pengetahuan Yang Maha Esa. Namun akhirnya, Allah menjawab “permintaan” hamba yang lemah ini.. dan saat Hati mula tertaut, biarlah hanya DIA yang mengetahuinya. Tahniah di ucapkan kepada sahabat-sahabat yang telah berjaya. (Alhamdulillah semuanya Jayyid Jiddan..)

insyaAllah.. kisah permusafiran HATI akan di lanjutkan dalam entri yang akan datang.. ( menunggu masa yang sesuai =) ).. di saat hati mula tertaut pada keindahan bumi barakah, setiap butir pasir dari bumi Allah adalah sejarah para anbiya’.. air jernih mengalir perlahan dari kelopak mata yang sentiasa merindui untuk bertemu empat mata dengan kekasih Allah, Muhammad S.A.W. apa aku berhak untuk bertemumu ya Rasulullah, ketika aku lalai mengingati Penciptaku dan Kekasih-Nya...? Sedangkan kau sentiasa merindui umatnya. Malunya aku padamu ya Rasulullah..

setiap langkahan kaki yang berlalu, mengingatkan kepada anjuran dan ajaran tarbiyah Rasulullah S.A.W. kepada ummatnya. Ya Allah yang Maha membangkitkan ke alam penyeru kejalan keluhuran, yang seruan Nabi ini dilangsungkan dan diteruskan dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, cahaya hidayah dilangsungkan oleh Allah dari jiwa mulia menuju jiwa mulia, menerangi hati si fulan menularkan cahayanya kepada jiwa lainnya, demikian rahsia kemuliaan kebangkitan sayyidina Muhammad SAW wabarik ‘alaih.

Kemuliaan dari satu jiwa yang dipenuhi hikmah Ilahi, dipenuhi cahaya kemuliaan al-Qur’anul karim, lantas disampaikan kepada jiwa-jiwa suci Muhajirin dan Anshor, mereka menerima kemuliaan cahaya risalah dan bimbingan-bimbingan Nabi SA.W., mereka menerima budi pekerti terindah, menyaksikan makhluk yang paling indah, menyaksikan budi pekerti yang paling indah, menyaksikan akhlak yang paling suci, sehingga mereka tenggelam meninggalkan seluruh idolanya, mereka tidak mengenal idola yang lain, selain Nabiyyuna Muhammad SAW, mereka lupa dengan semua yang mereka cintai, mereka asyik kepada manusia yang paling lembut dan berkasih sayang, manusia yang paling banyak tersenyum, manusia yang paling ramah, Nabi SAW wabarik ‘alaih, sehingga Allah memuji Baginda dalam Firman-Nya: “ Waman ahsana qoulan mimman da’aa ila Allah wa ‘amila sholihan wa qoola innanii minal muslimiin”, mafhumnya : “Adakah ucapan yang lebih indah kata Allah selain ucapan orang yang menyeru kejalan Allah dan kepada amal soleh dan berkata sungguh aku adalah orang yang muslim”

Ayat demi ayat turun, sehingga kemuliaan demi kemuliaan disampaikan. Lihatlah pada hadith, dimana semulia-mulia tuntunan sang Nabi, seraya menjaga kita dengan budi pekerti yang indah “Iyyaakum wazzhon fa innazzhonna akdzabul hadith”, berhati-hatilah kalian dengan sangka buruk kerana sangka buruk ucapan itu adalah yang paling dusta”, di sini menunjukkan Nabi membimbing kita untuk terhindar daripada permusuhan dan perpecahan, diteruskan oleh Nabi S.A.W : “walaa tajassasu“ dan jangan mencari-cari ‘aib orang lain, “walaa tahassasu” jangan berusaha mencari-cari khabar tentang buruknya ‘aib orang lain, “ walaa tabaaghoduu”, jangan saling membenci satu sama lain “walaa yakhthub rojulu ‘alaa khithbatii akhiihi hattaa yankiha auyatruk” akhlak Nabi , jangan melamar seorang wanita yang sudah dilamar oleh muslim yang lainnya sampai ia menikahinya atau tidak jadi menikahinya”.

Namun kini, ini adalah antara tuntunan-tuntunan yang sekiranya kita teliti biasa saja tetapi sekiranya dilaksanakan, orang yang melakukan ini akan menjadi pembuka kebahagiaan bagi masyarakatnya, akan dijadikan panutan, akan dijadikan idola, akan dicintai dan akan menjadi sebab terjadinya kebahagiaan dan kesejahteraan di masyarakatnya, apabila muncul dua, tiga, empat atau lebih orang yang sedemikian maka dunia ini akan indah bila kita mengikuti makhluk yang paling indah, Nabiyyuna Muhammad SAW yang diciptakan oleh yang Maha Indah, Allah S.W.T.

Al-Hafizd al-Iman Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya fathul bari bi syarah Sohihul Bukhari, menukilkan (mengutip) makna dari hadith ini, bahawa yang dimaksudkan tidak boleh melamar wanita yang sudah dilamar oleh orang lain ini, ‘ala sabilil ikroh, makruh bukan haram, tapi dari jalan adab dan menjaga perpecahan, bukan tidak sahnya lamaran, lamarannya tetap sah, kalau seandainya hal itu belum menjadi pernikahan, akan tetapi hal seperti ini hal yang menjadi sebab perpecahan sehingga dilarang oleh Nabiyyuna Muhammad SAW. Para Rasul selalu menjaga dan menasihati agar kita selalu di dalam kemuliaan, selalu dalam kedamaian, dan sentiasa dalam persatuan.

Para pembaca yang dimuliakan Allah. Dan (dialah) Rasul SAW yang menyampaikan kepada kita, umatnya cara-cara termudah dalam kehidupan. Rasul SAW dari bentuk keindahan tuntunannya, untuk orang-orang daripada pemuda yang akan melakukan pernikahan ada bimbingannya dari sang Nabi, dalam berumah tangga ada bimbingannya, dalam bermasyarakat ada bimbingannya, dalam bermu’amalah (berbakti) pada ayah dan bonda ada tuntunannya, dalam berbuat kepada anak-anak dan keturunan ada tuntunannya.

Kita lihat bagaimana Nabi S.A.W pernah bersabda, riwayat Sohih Bukhori: “Tazawwajuu walau bikhootim min hadiid” nikahlah kalian walau dengan mahar cincin dari besi”. Kelihatan hadith ini singkat saja, walaupun mengandungi sedemikian banyak hikmah-hikmah mulia, namun ini menunjukkan Nabi S.A.W mengangkat harga terbesar untuk kaum wanita, sekiranya kita membaca sekilas seakan-akan ini menghina kaum wanita, masakan maharnya adalah dari cincin besi? Berapa harga cincin besi? di jalan juga banyak besi yang dilebur membentuk cincin. Hakikatan, Rasul SAW ingin mengajarkan bahwa mahar bukan untuk membeli wanita, sebahagian orang tersalah menafsir, mahar adalah untuk membeli dan menghalalkan wanita.

Sedarilah... Wanita tidak bisa dibeli kehormatannya, oleh sebab itu Rasul SAW memberikan mahar yang demikian kecilnya dalam akad nikah, demi untuk apa? pertama menjaga perzinaan. Banyak lelaki dan wanita yang sudah ingin menikah tertahan gara-gara belum adanya harta yang banyak, terjadi pernikahan dan kehamilan sebelum menikah, ini yang pertama. Yang keduanya adalah untuk menghargai darjat wanita tersebut, menghargainya dengan adab dan akhlak, bukan dengan harta atau emas dan perak, kalau yang menghargainya dengan emas dan perak yang mahar, maharnya sudah sedemikian mahalnya, selesai ia menikah ia berkata; engkau milikku, sudah besar-besar ku keluarkan maharnya, kan kira-kira begitu? tentunya tidak demikian. Islam menghargai kaum wanita. Ini mahar yang demikian tiada ertinya, dalam hadiah dipersilakan mahar semahal apapun.

Lanjutannya, Rasulullah meneruskan lagi ”Aulim walau bi syaah” Riwayat Sohih Bukhori, adakan jamuan pernikahan “jamuan pernikahan itu sunnah, walau dengan seekor kambing yang disembelih saja”. Berfikir puluhan juta, ratusan juta, makin murah makin malu, justeru makin mahal makin jauh dari sunnah Nabi Muhammad SAW, semakin besar boleh-boleh saja, tapi yang sunnah adalah yang sederhana. Para pembaca yang di muliakan Allah, insyaAllah, ini yang mesti difahami oleh muslimin muslimah yang akan menikah atau yang putera-puterinya akan menikah atau yang kelak mempunyai anak yang akan menikah, perhatikan sunnah Nabi Muhammad SAW hal ini membawa keberkahan.



insyaAllah, akan bersambung....

Post a Comment