KETIKA NAFSU KITA BERBICARA

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, minta tolong kepada-Nya, dan minta ampun kepada-Nya. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu dan kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Insyaallah, entri kali ini lebih mendasari kepada permasalahan ummah, mungkin hayyah para pembaca, mungkin juga berlaku dalam hayyah pena sendiri. Pernah satu ketika, pena berkenalan dengan seorang sahabat, pada awalnya menerima didikan agama yang cukup dari ibu bapa namun ketika usia meningkat dewasa lantaran hidup dalam arus permodenan yang semakin mengagungkan budaya barat dari budaya islami, hidupnya mula berubah. Bila sahaja dilontarkan nasihat bertalu-talu, inilah jawapan2 indah yang di lafazkan :

“ takpa, esok masih ada untuk bertaubat...”

Tidak kurang hebatnya dengan seorang sahabat yang bila di ajak solat walhal azan sudah pun kedengaran, lebih meng’aula’kan untuk menonton drama kesukaan dari mendahulukan solat. Apa katanya ?

“takpa, awal lagi nak solat. Waktu panjang lagi. Drama ni esok2 tak boleh tengok dah...”


Bagi individu yang bergelar penuntut, pelajar dan seangkatan dengannya lagi, homework atau pun assignment yang diberikan di biarkan tanpa di usik, sampai masa sehari lagi nak hantar, barulah nak mem’buzy’kan diri untuk menyelesaikannya. Sibuk dengan hal2 luar, tapi hal2 dalam dibiarkan. Tak kurang hebatnya bila dua tiga minggu lagi nak menghadapi peperiksaan, ketika sahabat2 lain buzy dengan study, kita duk buzy dengan perkara2 yang tidak berkaitan pun dengan permasalahan umat islam. Apa kata kita ?

“ ala rileks la.. takpa exam lambat lagi...”

Budaya “Tak pa” telah lama menguasai umat ini, menyebabkan kita sering ketinggalan dan dianggap mundur dari segenap bidang sama ada dari sudut ukhrawi mahupun duniawi. Kenapa budaya ini meresap dalam relung hati kita hingga kita menjadi umat yang hina walaupun hakikatnya kita sepatutnya mulia dengan keIslaman ini.

Kenapa budaya ini cukup sebati dalam diri masyarakat kita sedangkan Islam cukup membenci budaya yang melengah-lengahkan amalan kebaikan dan membiasakan diri dengan amalan kejelekan seperti di atas. Kerana ketika nafsu kita berbicara, iman menjadi bisu tanpa bicara lalu tubuh mula melakukan aksi yang bakal membinasakan kehidupan sang manusia yang memakai baju Islam dan Muslim itu.

Ketika nafsu kita berbicara, ibadah menjadi suatu yang diambil mudah seperti mudahnya kita menanggalkan pakaian dari tubuh lantas solat hanya dilakukan sekadar untuk melengkapkan diri dengan title seorang Muslim dan bukan sebagai suatu keperluan dalam kehidupan seorang Muslim yang bakal menjauhkan diri dari terjebak dengan perbuatan keji dan mungkar, seperti mana Firman Allah dalam kitab suci al-kareem : “….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”[Al Ankabuut 29:45]

Ketika nafsu kita berbicara, solat hujung lima waktu itu tidak mampu menurunkan pandangan melihat yang haram hingga menjadi santapan harian yang cukup enak apatah lagi hidangan itu terlupa untuk ditutup dengan ‘tudung saji’ namun sekadar ditutup dengan sehelai kain ‘sapu tangan lutsinar’ hingga mampu menggoncangkan dada untuk berdenyut melebihi paras normal seorang manusia dan mula terpaut dihati hingga berlakulah pertemuan dan berbalas hadiah serta menyambut tarikh khurafat 14 Februari dan nafsu kita juga semakin kuat berbicara……. “Pandang jangan tak pandang….”

Ketika nafsu kita berbicara, bukan sekadar nilaian ukhrawi semakin kurang bahkan nilaian dunia juga diabaikan hingga pelajaran sudah menjadi suatu yang membebankan, menjadikan diri malas untuk menelaah pengajian, malas mengikuti pengajian, malas memahami makna sebuah pendidikan. Justeru itu, lahirlah generasi yang mempunyai tahap akademik yang baik tapi belum mampu mendapatkan pekerjaan hingga pelbagai bantuan harus disalurkan namun masih ramai yang menganggur kerana kualiti pendidikan yang cukup lemah dan siapakah yang patut dipersalahkan sistem pendidikan atau sikap semasa berada dalam sistem tersebut.

Dan ketika nafsu kita semakin lantang bersuara…”Rilek lah brother/sister, exam nanti kita pakat tiru ramai-ramai….” Ketika nafsu kita berbicara, hatta setelah mendapat pekerjaan yang dapat menampung kehidupan dengan gaji yang boleh dikatakan “ok”lah, maka segala tugas dilakukan secara sambil lewa, datang kerja pada awal waktu tapi mula kerja pada hujung waktu, balik kerja pada waktu yang ditentukan namun cabut awal dari waktu sebenar dibantu rakan sekerja yang ‘prihatin’ dan ‘amanah’ sebagai duta untuk ‘punch card’kan.

Masalah birokrasi mula diselitkan dengan sebuah ‘income tambahan’ jika ingin memper-cepatkan urusan lalu mula menggeletar saat Badan Pencegah Rasuah menyiasat kerana pasti tidak akan dipilih sebagai calon nantinya….maka nafsu kita semakin ghairah bersuara…. “Keje biasa-biasa je, janji duit masuk …”

Ketika nafsu kita berbicara, masa terus berlalu dan berlalu walhal kita masih lagi bergelimang dengan dosa dan noda, budaya ‘Tak pa’ masih menjadi i’tikad yang kuat dalam diri dan kehidupan hinggalah tiba saat rambut mula menjadi seindah warna kapas, kulit mula menunjukkan kekurangan otot-ototnya dan badan semakin ingin menyembah bumi lantas barulah tersedar dari lamunannya dan terkenang zaman ‘tak pa’nya dulu, lalu kaki mula tergerak untuk menaiki tangga surau dan masjid hingga berbondong-bondong warga emas mula untuk mengikuti pengajian dan memohon taubat atas kealpaaannya selama hidupnya yang sudah tiba ke penghujungnya.

AlhamduliLLAH jika masih sempat bertaubat dan kembali menyesal atas dosa-dosa lalu namun perubahan yang kita dambakan pastinya sudah samar-samar akibat lambatnya kita menyedari kesilapan dan kelalaian sendiri. Tetapi bagi mereka yang masih belum tiba waktu tuanya pasti membiarkan nafsu membesarkan suaranya dalam relung hati masing masing…….. “Tak pa, life start at forty, still have time… yang penting kita enjoy!!!!!

Ketika nafsu kita berbicara, kita sering tewas dan terpaksa mengalah dengannya, alangkah ruginya andai kita tidak mampu mendidik nafsu ini ke arah yang diredhai-Nya, alangkah ruginya masa-masa kita jika nafsu ini masih dibiarkan untuk berbicara sekehendaknya hingga mampu menyesatkan kita dari jalan kebenaran-Nya, alangkah ruginya kita bila merasa seronok dengan perbuatan yang hanya memuaskan nafsu diri yang pastinya tidak pernah puas selama-lamanya hingga kematian menjemput kita.

Adakah nafsu kita masih berbicara?? ketika nafsu kita masih berbicara, pastikan iman kita juga berbicara bahkan dengan suara yang dapat menundukkan nafsu itu dari menguasai kita, maka menjadi kewajipan untuk menguatkan iman kita dengan ‘akidah yang bersih, ‘ibadah yang dapat dirasakan kemanisannya dan akhlak yang indah dari segi dalaman dan luaran sebagai tanda ‘ibadah kita memberi kesan bukan sahaja kepada diri bahkan kepada masyarakat sekeliling. Dan ketika nafsu itu masih lagi berbicara tapi bicaranya bukan lagi ke arah kejelekan bahkan ke arah kebaikan.

Siapakah pemilik nafsu yang diberi rahmat ini??? Berdoalah agar kita salah seorang daripadanya wahai teman-temanku. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan kita yang Maha Esa.

“Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [ Yusuf 12:53]

Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash ra berkata; RasuluLLAH saw bersabda, “ Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti ajaran-ajaran yang aku bawa.”
[ Hadith 41 –dr Hadith Arbain An Nawawiyah]

“….Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.”
[Al An’aam 6:119]

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.”
[Al Mu’minuun 23:71]

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” [Al Maidah 5:48]

” …Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran….”
[An Nisa’ 4:135]

Berwaspadalah apabila nafsu kita berbicara... moga2 nafsu kita adalah nafsu yang mendapat rahmat-Nya...
SEKIAN, WASSALAM
~ amriena rasyada ~
Post a Comment