KATA JIWA YANG TIDAK TERLUAH

Bismillah…~ sejuta Hamdallah kita tinggikan ke hadrat Ilahi. Dengan rahmat kasih sayang DIA, masih mampu bernafas sampai detik ini, walau pun.. Allah “postpone” kan nikmat sihat untuk seketika. Sampai bila…? Saya serahkan pada-Nya. Bergembiralah.. saat Allah memberikan musibah! Kadang-kadang, berada dalam kesakitan itu lebih baik, kerna kita akan terus dekat dengan Ilahi. Percayalah! Ada sejuta hikmah dari satu  kesakitan yang dirasai.  

Nabi S.A.W. malah memberikan berita gembira dengan sabdanya, : “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan ALLAH akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnu Qayyim bahkan pernah berkata : “Andaikata kita bisa menggali hikmah ALLAH yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-NYA, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu ALLAH, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan ini pun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekadar gambaran ini”. (Syifa-ul Alil fi Masail Qadha wal Qadar wa Hikmah wa Ta’lil hal 452).

Hakikatnya… tidak punya idea untuk mencoret tinta. Cuma, “terjentik” seketika dengan kisah seorang sahabiyah. Mungkin.. saya bukanlah orang yang tepat untuk memberikan kata-kata tausiyah, tidak mampu dengan bicara, saya kirimkan doa dan luahkan rasa yang terpendam dalam hati dan jiwa, kerna saya juga sedang merasakannya. Inilah kata jiwa saya.. yang tidak mampu terluah. Sahabat..

Kadang-kadang.. Perpisahan itu ternyata lebih baik dan bermakna. Daripada kita terus membohongi diri kita dengan sejuta kepalsuan pada sebuah erti perhubungan. Bahkan Kita mungkin membuatkan seseorang itu terus-menerus meletakkan harapan pada suatu yang hakikatnya tidak mungkin akan terjadi. Tapi…Semuanya itu akan berlaku dengan idzin yang Maha Kuasa. Jangan…Jangan putus asa.. Allah tidak suka. jalan kita masih panjang. Terus pujuk hati, seolah-olah tiada badai yang melanda. Sudah sampai saatnya.. Sayu dan pilu, perit dan pedih itu ditolak tepi, dibuang jauh pergi dari diri..


Kadang-kadang juga, Perpisahan itu bukan mengajar kita untuk terus-menerus lemah. Tapi sebenarnya memberikan kekuatan pada diri sendiri. Supaya kita mampu untuk menilai sebuah perhubungan sama ada bahagia atau tidak dengan hanya memiliki. Dan ketika sudah “diketuk”.. bahawa perhubungan itu hanya menyusahkan..Yang terbaik adalah kita lepaskan ianya dari terus menyiksa diri dan menyakitkan hati.

Ya.. Kita mungkin hilang satu arah dalam usaha mengejar sesuatu yang kita sangkakan cinta. Tapi…
Sedar atau pun tidak, bila kita kehilangannya, kita malah akan mula menyalahkan takdir. Jangan lupa.. dalam meneruskan kehidupan menuju akhirat, kita masih ada pilihan. Sama ada kita mahu terus kecewa atau pun bangkit untuk terus mencari erti sebuah kehidupan. Ingat, kita memang punya akal yang sihat dan waras untuk menangisi kekecewaan. Tapi.. Kita juga punya akal yang sama untuk membina kekuatan dalam mencari identity diri kita. Sahabat.. Tiada siapa yang boleh mengubah kehidupan kita, melainkan diri kita sendiri. Sifirnya… Terus berusaha, berdoa, dan bertawakal.. ila Robbina (kepada Tuhan kita).

Lebih baik.. Kita meninggalkan kenyataan yang takkan kunjung tiba. Daripada kita meninggalkan sesuatu yang pasti dan memulakan sesuatu yang lebih baik. Sebab pasti ada yang lebih baik menanti walau pun sakit yang dirasai itu ada pedihnya. Memanglah, sesuatu yang hilang, digantikan dengan lain tiada samanya. Namun, yakin dan pastilah, Allah mahu mempertemukan kita kepada yang salah dahulu. Sebelum ianya akan menjadi hak kita untuk selama-lamanya. Berdoalah.. Teruskan.. tanpa henti.. biar akhirnya adalah terbaik!




Sahabat… sama-sama mengambil hikmah! 

Sewaktu belum mempunyai calon, sejadah memang menjadi hamparan, tazkirah setia menjadi teman, doa kepada Allah siang dan malam. Bila sudah mempunyai calon, semua itu sedikit demi sedikit jadi lakonan. Fokus beralih kepada si dia yang menjadi idaman, yang dinasihat supaya berbincang tentang pernikahan, tapi yang dibuat adalah berhubungan siang dan malam. Hujung pangkal pernikahan belum nampak jalannya teman. Boleh jadi calon yang diberikan itu hanya sebagai ujian, bukan jodoh yang ditetapkan. kerna Allah mahu melihat sejauh mana engkau punya keimanan. Adakah engkau akan jatuh dalam kealpaan, atau masih setia dengan niatmu di permulaan. Ingat teman…. :: Syaitan dan nafsu itu licik dan melicikkan. Hati-hati ::



Nah! Kata-kata terakhir sebelum tinta saya akhiri.. saya pinjam dari sahabat fillah..

Bersyukurlah andai memiliki hati yang sering dilukai, kerana dengannya kita belajar menjadi seorang yang lebih mengerti, memahami dan menghargai. Terus memuhasabah diri  =)





Al-FaQiroh ila Robbiha :
~ waznah al-Hamraa’ ~
19  Jamadil Akhir 1433H
11 Mei 2012 
Post a Comment