BERDALILLAH APA YANG DATANG DARI ALLAH DAN RASULULLAH

seusai menunaikan solat, ku capai tafsir al-Quran berhampiran denganku. Selesai membaca empat muka surat dari ayat suci beserta dengan tafsirnya, aku mengambil keputusan untuk mengakhiri bacaan ku… terasa sesak dalam dada, entah apa yang mengganggu ku tika itu. Rasa sakit itu datang lagi.. hamdulillah, syukran Lillah, “semuanya tarbiyah dari Allah”, getus hatiku.

Teringat aku pada mafhum dari ayat yang aku baca sebentar tadi : “ jika kamu saling berbantah-bantahan dalam sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( al-Quran ) dan Rasul ( assunnah ) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya”.

Ku lihat buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah yang ku pinjam dari seorang sahabat semalam. Ahh, aku rewind kembali perbincangan ku dengan sahabatku, lewat senja kelmarin, betapa manusia lewat akhir zaman kini berbicara sesuatu perkara tanpa tahu kesahihannya, entah benar atau tidak.. dari mana sumbernya juga tidak di ketahui.. tidak kisahlah, yang berada di barisan atas mahupun bawah. Aku hanya mendengar hujahnya.. masing-masing punya hujah tersendiri, masing-masing punya manhaj tersendiri..


“Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah bahwa dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa yang datang dari Kitab Allah dan atau Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam baik secara lahir mahu pun bathin dan mengikuti apa-apa yang dijalankan oleh para sahabat dari kaum Muhajirin mahu pun Anshar pada umumnya dan khususnya mengikuti Al-Khulafaur-rasyidin” sebagaimana wasiat Rasulullah dalam sabdanya.

ertinya : " Berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyid-iin yang mendapat petunjuk". [Telah terdahulu takhrijnya]

Dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak mendahulukan perkataan siapa pun terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah. Oleh kerana itu mereka dinamakan Ahlul Kitab Was Sunnah. Setelah mengambil dasar Al-Qur'an dan As-Sunnah, mereka mengambil apa-apa yang telah disepakati ulama umat ini. Inilah yang disebut dasar yang pertama iaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Segala hal yang diperselisihkan manusia selalu dikembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah.

Seperti mana firman Allah ta’ala , ertinya : “Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari akhir, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya". [An-Nisaa : 59]

Ahlus Sunnah tidak meyakini adanya kema'shuman seseorang selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka tidak berta'ashub pada suatu pendapat sampai pendapat tersebut bersesuaian dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid itu bisa salah dan benar dalam ijtihadnya. Mereka tidak boleh berijtihad sembarangan kecuali siapa yang telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul 'ilmi.

perbezaan atau khilaf diantara mereka dalam masalah ijtihad tidak boleh mengharuskan adanya permusuhan dan saling memutuskan hubungan diantara mereka, sebagaimana dilakukan orang-orang yang ta'ashub dan ahlul bid'ah. Sungguh mereka tetap metolerir perbedaan yang layak (wajar), bahkan mereka tetap saling mencintai dan berwali satu sama lain ; sebagian mereka tetap solah di belakang sebahagian yang lain betapa pun adanya khilaf dalam masalah furu’ (cabang) diantara mereka. Sedang ahlul bid'ah saling memusuhi, mengkafirkan dan menghukumi sesat kepada setiap orang yang menyimpang dari golongan mereka.

berdoalah moga-moga kita di tempatkan di antara golongan yang sentiasa beramal dengan kitab Allah dan sunnah Baginda sallallahu’alaihi wasalam, dan mohon moga kita di lindungi dan di hindarkan dari menjadi golongan yang menghukumi seseorang kafir mahupun sesat.

Wallahu’alam…
Post a Comment